|
Rencana untuk mendirinkan NU Cabang Istimewa sebenarnya sudah lama digagas oleh beberapa mahasiswa NU yang menempuh studi di Australia. Namun, rencana ini belum sempat terealisasikan karena beberapa kendala teknis. Hampir satu setengah tahun rencana ini belum dapat terealisasikan. Berawal dari pertemuan terbatas di rumah M Taufiq Prabowo (Mahasiswa PhD di ANU) yang dihadiri beberapa orang antara lain, Safira Machrusah Prabowo, Arif Zamhari, Nadirsyah Hosen, Yasir Alimi, M. Mahdum, Zahrul Muttaqin, Salahuddin, Lukman Hakim, Umar Faruk Segaf, Khadijah, dan Dewi Payne akhirnya diputuskan untuk membentuk NU Cabang Istimewa Australia dan New Zealand. Pertemuan itu juga memutuskan untuk mendata nama-nama orang NU yang menyebar di beberapa Negara bagian di Australia dan New Zealand. Pendataan nama-nama ini dilakukan untuk memenuhi syarat bahwa PCI NU bisa didirikan jika sudah memiliki minimal 25 orang anggota. Setelah terkumpul beberapa nama kemudian ditunjuk salah seorang koordinator di beberapa negara bagian. Di Melbourne diwakili oleh Sahabat Suaidi Asy’ari, Brisbane diwakili oleh Nadirsyah Hosen, Perth diwakili oleh Ardiansyah Matsyeh, Adelaide diwakili Nur Naila. Nama-nama yang hadir dalam rapat pembentukan PCI NU dan nama-nama kordinator inilah yang kemudian tercatat sebagai penggagas berdirinya NU di Australia dan New Zealand. Setelah masing-masing kordinator mendata beberapa nama tersebut baru kemudian diputuskan untuk menyelenggarakan pemilihan ketua PCI NU Australia dan New Zealand. Proses pemilihan yang dilakukan secara virtual ini berlangsung demokratis. Terpilih sebagai ketua Tanfidziah adalah Arif Zamhari dan Nadirsyah sebagai ketua Syuriah. Rencana pembentukan PCI NU ini didasari oleh kenyataan semakin kuatnya aroma radikal yang ditampilkan oleh sebagian kelompok umat Islam. Tentu saja cara radikal yang demikian merugikan terhadap kepentingan Islam yang lebih luas. Akibatnya, citra Islam sebagai agama yang ramah dan santun menjadi ternoda akibat ulah sebagian kelompok itu. Pembentukan PCI NU di Australia salah satunya adalah untuk mengembalikan wajah Islam yang moderat dan ramah, yang menjadi karakterisitik Ahlussunnah wal Jamaah yang selama ini dipegangi secara kukuh oleh Nahdlatul Ulama.
|